Tujuh Trik untuk Data Storytelling yang Lebih Baik: Bagian II
Dalam episode terbaru DataFramed, Andy Cotgrave, technical evangelist di Tableau, membagikan pentingnya data storytelling dalam mendorong perubahan melalui analitik. Dalam blog dua bagian ini, kami mengupas tujuh kiat konkret yang diberikan Andy tentang data storytelling
Cerita umumnya mengikuti alur yang serupa – tokoh utama menghadapi tantangan, kemudian menyelesaikannya, lalu kembali ke keadaan normal. Contoh alur ini adalah Perjalanan Sang Pahlawan (Hero’s Journey).
Gambar 1: Perjalanan sang pahlawan
Audien 22 kali lebih mungkin mengingat sebuah fakta ketika disampaikan melalui cerita. Jelas, visualisasi data akan diuntungkan dengan mengadopsi struktur naratif yang telah teruji waktu.
Dengan mengadopsi struktur naratif, sebuah data story dimulai dengan latar situasi saat ini, dilanjutkan dengan bukti yang membangun menuju wawasan utama, dan ditutup dengan ajakan bertindak. (Gambar 2)
Gambar 3A: Untuk membangun konteks, data story terlebih dahulu menegaskan dampak COVID-19 pada negara-negara yang dilanda kemiskinan. [Sumber]
Gambar 3B: Data story menghadirkan wawasan yang menguat dengan menyoroti jurang yang kian melebar antara kalangan mampu dan tidak mampu sebelum dan sesudah pandemi.
Gambar 3C: Data story ditutup dengan ajakan bertindak – untuk meningkatkan investasi pada perempuan, komunitas, dan inovasi.
5. Sesuaikan data story dengan medianya
Godaan untuk menggunakan ulang bagan yang ada di berbagai media memang besar. Namun, data storyteller yang melakukannya justru merugikan dirinya sendiri.
Bagan yang tidak dioptimalkan untuk medianya bisa gagal menyampaikan pesan secara efektif. Bagan yang awalnya dirancang untuk email mungkin berisi teks yang sangat kecil dan tidak terbaca di layar.
The Economist menunjukkan bagaimana data story dapat disesuaikan dari media cetak ke media sosial. Bagan cetak (dirancang untuk pembaca serius) padat informasi. Bagan tersebut kemudian dipangkas dan disederhanakan untuk Instagram (dirancang untuk pengguna yang menggulir santai).
Gambar 4: Bagan cetak The Economist (kiri) disesuaikan untuk media sosial (kanan) [Sumber]
6. Rapikan data story Anda
Kekacauan visual membuat data story sulit dibaca. Beban kognitif tambahan mengalihkan perhatian audien dari pesan utama.
Tanggung jawab ada pada data storyteller untuk mengidentifikasi dan menghapus elemen berlebih yang tidak berkontribusi pada pesan yang dimaksud. Hasil dari proses merapikan ini sangat mencolok.
Memberi label data secara langsung (alih-alih menggunakan legenda)
Menghapus penanda data
Gunakan efek khusus (tebal, garis bawah, miring, bayangan) secara hemat
7. Jelaskan data story secara bertahap
Saat menyajikan data story yang kompleks, salah satu kiat praktis adalah menampilkan elemen bagan secara bertahap. Ketika informasi disajikan dalam bagian-bagian yang mudah dicerna, audien lebih mungkin terlibat dengan presentasi.
Contoh utamanya adalah presentasi “The Joy of Stats” oleh Hans Rosling. Saksikan bagaimana Rosling dengan piawai menyampaikan data story-nya.
Data storytelling akan tetap relevan
Data storytelling akan segera menjadi keterampilan yang diperlukan bagi semua orang dalam dekade mendatang seiring wawasan berbasis data menjadi pilar organisasi. Untuk mempelajari lebih banyak kiat dan trik data storytelling, dengarkan podcast Andy, atau pelajari dari webinar terbarunya di DataCamp.
Temukan alasan mengapa Anda sebaiknya (tidak) menggunakan spaghetti plot untuk menyampaikan ketidakpastian jalur prediksi badai serta dampaknya terhadap interpretasi.
Kuasai pertanyaan wawancara basis data, dari konsep SQL dasar hingga skenario desain sistem tingkat lanjut. Panduan mendalam ini mencakup semua yang Anda perlukan untuk sukses di wawancara DBMS dan meraih peran berikutnya.
4. Gunakan struktur naratif dalam data story.
Cerita umumnya mengikuti alur yang serupa – tokoh utama menghadapi tantangan, kemudian menyelesaikannya, lalu kembali ke keadaan normal. Contoh alur ini adalah Perjalanan Sang Pahlawan (Hero’s Journey).
Audien 22 kali lebih mungkin mengingat sebuah fakta ketika disampaikan melalui cerita. Jelas, visualisasi data akan diuntungkan dengan mengadopsi struktur naratif yang telah teruji waktu.
Dengan mengadopsi struktur naratif, sebuah data story dimulai dengan latar situasi saat ini, dilanjutkan dengan bukti yang membangun menuju wawasan utama, dan ditutup dengan ajakan bertindak. (Gambar 2)
Contoh data story yang sangat baik, Laporan Goalkeeper oleh Gates Foundation menunjukkan bagaimana pandemi memperburuk ketimpangan. (Gambar 3A, 3B, dan 3C)
5. Sesuaikan data story dengan medianya
Godaan untuk menggunakan ulang bagan yang ada di berbagai media memang besar. Namun, data storyteller yang melakukannya justru merugikan dirinya sendiri.
Bagan yang tidak dioptimalkan untuk medianya bisa gagal menyampaikan pesan secara efektif. Bagan yang awalnya dirancang untuk email mungkin berisi teks yang sangat kecil dan tidak terbaca di layar.
The Economist menunjukkan bagaimana data story dapat disesuaikan dari media cetak ke media sosial. Bagan cetak (dirancang untuk pembaca serius) padat informasi. Bagan tersebut kemudian dipangkas dan disederhanakan untuk Instagram (dirancang untuk pengguna yang menggulir santai).
6. Rapikan data story Anda
Kekacauan visual membuat data story sulit dibaca. Beban kognitif tambahan mengalihkan perhatian audien dari pesan utama.
Tanggung jawab ada pada data storyteller untuk mengidentifikasi dan menghapus elemen berlebih yang tidak berkontribusi pada pesan yang dimaksud. Hasil dari proses merapikan ini sangat mencolok.
Khususnya, whitepaper kami “8 Aturan untuk Data Storytelling yang Lebih Baik” menyarankan para data storyteller untuk:
7. Jelaskan data story secara bertahap
Saat menyajikan data story yang kompleks, salah satu kiat praktis adalah menampilkan elemen bagan secara bertahap. Ketika informasi disajikan dalam bagian-bagian yang mudah dicerna, audien lebih mungkin terlibat dengan presentasi.
Contoh utamanya adalah presentasi “The Joy of Stats” oleh Hans Rosling. Saksikan bagaimana Rosling dengan piawai menyampaikan data story-nya.
Data storytelling akan tetap relevan
Data storytelling akan segera menjadi keterampilan yang diperlukan bagi semua orang dalam dekade mendatang seiring wawasan berbasis data menjadi pilar organisasi. Untuk mempelajari lebih banyak kiat dan trik data storytelling, dengarkan podcast Andy, atau pelajari dari webinar terbarunya di DataCamp.